Ngiau! Kucing dalam darah dia menderas
lewat dia mengalir ngilu ngiau dia bergegas lewat dalam aortaku dalam rimba
darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar
dia macam kucing bukan kucing tapi kucing
ngiau dia lapar dia merambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya
dia meraung dia mengerang jangan beri
daging dia tak mau daging Jesus jangan
beri roti dia tak mau roti ngiau kucing meronta dalam darahku meraung
merambah barah darahku dia lapar 0 alangkah lapar ngiau berapa juta hari
dia tak makan berapa ribu waktu dia
tak kenyang berapa juta lapar lapar kucingku berapa abad dia mencari mencakar menunggu tuhan mencipta kucingku
tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu dia lapar jangan beri daging jangan beri nasi tuhan menciptanya tanpa setahuku dan kini dia minta
tuhan sejemput saja untuk tenang sehari untuk kenyang sewaktu untuk tenang..
Memahami Puisi, 1995
ANALISIS
Dari puisi di atas, nampak beberapa sisi yang menunjukkan unsur mantra dalam puisi karya Sutardji. Contohnya adalah terdapatnya unsur religi seperti penyebutan nama Tuhan. Dalam puisi “Kucing”, nampak pula bahwa terdapat proses pencarian hakikat tentang Tuhan yang dilambangkan dengan kucing yangsedang kelaparan.
menyatakan bahwa “kucing” dalam puisi di atas merupakan lambang darisemangat masyarakat yang tak pernah redup dalam mencari Tuhan. Meskipun tak pernah pernah tercapai, namun mereka terus mencari. Namun, bila kita selami pemikiran Sitardji, dalam konsep “Kredo”-nya,Sutardji sesungguhnya ingin membebaskan kata-kata dari fungsinya sebagai alat pembawa pengertian Lebih lanjut, Sutardji menyatakan pula bahwa kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri. Dalam puisi yang ia ciptakan, Sutardji pun mengatakan dengan tegas bahwa ia ingin membebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus-kamus dan penjajahan lain. Pemikirannya yang kedua dalam “Kredo”-nya tersebut, Sutardji juga ingin “mengembalikan kata kepada mantra”.Sutardji yang tak pernah mendefinisikan makna dari mantra dalam pemikirannya ditambah dengan karya-karyanya berupa puisi —salah satunya dapat dilihat pada “Kucing”—yang sarat akan kata-kata dengan rasa magisagaknya menimbulkan anggapan bagi masyarakat bahwa karyanya memanglah mantra. kata-kata dan kalimat dalam puisi Sutardji, termasuk dalam puisi “Kucing” di atas, jika dirangkaikan satu sama lain sesungguhnya dapatmembentuk suatu prosa yang terdiri dari kalimat-kalimat sederhana. Pada puisi diatas, terdapat pemenggalan suku kata yang tidak biasa seperti “af” dengan“rikaku” terpisah pada baris baru. Namun jika dilihat kembali, bukan tak mungkin bahwa tujuan Sutardji melakukan pemenggalan-pemenggalan tak biasa tersebut
adalah guna menghasilkan suatu tipografi dengan bentuk setengah sisi siluetkucing (terbentuk pada sisi kanan atau perpaduan akhir kalimat pada setiap baris).Dari hal ini dapat terlihat bahwa unsur mantra dalam puisi lama sungguh berbeda dengan unsur mantra yang dianggap oleh sebagian besar orang terdapat dalam karya-karya Sutardji. Keunikan yang dicapai Sutardji lebih cenderung kearah tipografi pada puisinya. Pada mantra dalam puisi lama pun tentu tidak terdapat tipografi. Selain itu, perbedaan nampak pula pada tujuan penciptaanmantra. Jika mantra dalam puisi lama bertujuan untuk memperoleh kekuatan yang bersumber dari unsur gaib, maka tujuan penciptaan karya-karya Sutardji yang dianggap berunsur mantra tentu tidaklah serupa. Tentu terdapat pesan yang masih dapat ditelusuri dalam karya Sutardji dan sekali lagi pengedepanan permainan tipografi menjadi amat penting baginya
puisi Kucing oleh Sutardji
Selasa, 24 Januari 2012
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
00.59
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Biografi Chairil Anwar
Jumat, 11 November 2011
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta. Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil.
Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
02.58
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Minggu, 21 Agustus 2011
Buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Dari: Deru Campur Debu (1949)
Dari puisi di atas dapat kita lihat betapa sedihnya Chairil Anwar. Tetapi uniknya penulis tidak menunjukkan kesedihannya secara langsung. Ia menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan perasannya. Maka puisi tersebut menggunakan aliran simbolisme, dimana penulis menggunakan hewan, tumbuhan, dll. sebagai objek penulisannya.
Dalam kesedihan yang amat dalam, penulis tidak pernah sekalipun mengatakan kata “sedih”. Jika kita membacanya, kita akan terbawa dalam suasana yang ada dalam puisi tersebut. Kita dapat merasakan apa yang sedang dirasakan penulis. Pembaca dibawanya untuk turut erta melihat tepi laut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang telah tua. Kapal dan perahu yang tertambat disana. Hari menjelang malam disertai gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran tentang pantai ini sudah bercerita tentang suatu yang muram, di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta, berjalan menyusur semenanjung.
Inilah kehebatan Chairil Anwar, dengan kata-kata yang biasa mampu menghidupkan imajinasi kita. Judul puisi tersebut, telah membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam, tanpa hiruk pikuk orang bekerja.
Pada puisi diatas sang penyair berhasil menghidupkan suasana, dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa yang dipakainya mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga memancarakan rasa haru yang dalam.
Sebagian dari puisi-puisi Chairil Anwar bertemakan kesuraman,kepedihan, beraroma kematian, dll. puisi ini satu-satunya puisi yang bertemakan cinta untuk seseorang.
Pada bagian lain, gerimis mempercepat kelam, kata kelam sengaja dipilihnya, karena terasa lebih indah dan dalam daripada kata gelap walaupun sama artinya. Setelah kalimat itu ditulisnya, ada juga kelepak elang menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu dan berganti dengan maas mendatang, diucapkan dengan kata-kata penuh daya: desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan kata-kata yang sarat akan makna, yakni: dan kini tanah dan air hilang ombak. Puisi Chairil Anwar ini hebat dalam pilihan kata, disertai ritme yang aps dan permainan bunyi yang semakin menunjang keindahan puisi ini, yang dapat kita rasakan pada bunyi-bunyi akhir yang ada pada tiap larik.
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Dari: Deru Campur Debu (1949)
Dari puisi di atas dapat kita lihat betapa sedihnya Chairil Anwar. Tetapi uniknya penulis tidak menunjukkan kesedihannya secara langsung. Ia menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan perasannya. Maka puisi tersebut menggunakan aliran simbolisme, dimana penulis menggunakan hewan, tumbuhan, dll. sebagai objek penulisannya.
Dalam kesedihan yang amat dalam, penulis tidak pernah sekalipun mengatakan kata “sedih”. Jika kita membacanya, kita akan terbawa dalam suasana yang ada dalam puisi tersebut. Kita dapat merasakan apa yang sedang dirasakan penulis. Pembaca dibawanya untuk turut erta melihat tepi laut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang telah tua. Kapal dan perahu yang tertambat disana. Hari menjelang malam disertai gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran tentang pantai ini sudah bercerita tentang suatu yang muram, di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta, berjalan menyusur semenanjung.
Inilah kehebatan Chairil Anwar, dengan kata-kata yang biasa mampu menghidupkan imajinasi kita. Judul puisi tersebut, telah membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam, tanpa hiruk pikuk orang bekerja.
Pada puisi diatas sang penyair berhasil menghidupkan suasana, dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa yang dipakainya mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga memancarakan rasa haru yang dalam.
Sebagian dari puisi-puisi Chairil Anwar bertemakan kesuraman,kepedihan, beraroma kematian, dll. puisi ini satu-satunya puisi yang bertemakan cinta untuk seseorang.
Pada bagian lain, gerimis mempercepat kelam, kata kelam sengaja dipilihnya, karena terasa lebih indah dan dalam daripada kata gelap walaupun sama artinya. Setelah kalimat itu ditulisnya, ada juga kelepak elang menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu dan berganti dengan maas mendatang, diucapkan dengan kata-kata penuh daya: desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan kata-kata yang sarat akan makna, yakni: dan kini tanah dan air hilang ombak. Puisi Chairil Anwar ini hebat dalam pilihan kata, disertai ritme yang aps dan permainan bunyi yang semakin menunjang keindahan puisi ini, yang dapat kita rasakan pada bunyi-bunyi akhir yang ada pada tiap larik.
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
22.46
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Tangan Tuhan Terbuka
Minggu, 06 Maret 2011
Segala yang tlah terjadi
Mungkin kita tak dapat mengerti
Mengapa Tuhan izinkan semua
Masalah silih berganti
Namun Tuhan tak memberi
Pencobaan melebihi kekuatan kita
Dekatkan diri kepada-Nya
Dia Allah yang setia
Tangan Tuhan akan slalu terbuka
Bagi semua orang yang membutuhkan uluran tanganNya
Percayalah Dia tak akan meninggalkan
Semua orang yang berseru
Berharap pada-Nya
Tangan Tuhan akan slalu terbuka
Dia mengerti setiap tetesan air mata kita
Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu
Datanglah pada-Nya
Sebab tangan Tuhan kan slalu terbuka
Mungkin kita tak dapat mengerti
Mengapa Tuhan izinkan semua
Masalah silih berganti
Namun Tuhan tak memberi
Pencobaan melebihi kekuatan kita
Dekatkan diri kepada-Nya
Dia Allah yang setia
Tangan Tuhan akan slalu terbuka
Bagi semua orang yang membutuhkan uluran tanganNya
Percayalah Dia tak akan meninggalkan
Semua orang yang berseru
Berharap pada-Nya
Tangan Tuhan akan slalu terbuka
Dia mengerti setiap tetesan air mata kita
Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu
Datanglah pada-Nya
Sebab tangan Tuhan kan slalu terbuka
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
21.59
1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
DINOSAURUS DAN AIR BAH SEDUNIA
Senin, 13 Desember 2010
Bruce Stewart
Transleted by: Stevani Aprilia R
Secara alkitabiah, Kita tahu bahwa dinosaurus berada di bahtera Nabi Nuh sejak 2 jenis setiap binatang yang diambil ke atas. Kenyataannya, ciptaan ini tidak hanya menyelamatkan nyawanya dari cobaan berat sepanjang tahun yaitu air bah tetapi hidup untuk ratusan tahun sesudah itu sebelum mereka menjadi padam.
Menurut Kejadian 6:14-17, bahtera Nuh kira-kira panjangnya 450 kaki, tingginya 45 kaki, lebarnya 75 kaki, dan mempunyai kapasitas ruan 1.400.000 kaki kubik (sama dengan lebih dari 500 mobil box dalam sebuah kereta api). Bahtera itu tidak dibangun untuk pergi ke titik A ke titik B,tetapi untuk menyerderhanakan menjadi sebuah box apung. Bahtera tidak mempunyai kemudi, kedok, ataupun layar. Tidak ada kapal yang dibangun lebih besar dari bahtera Nuh sampai 1850-an.
Nabi Nuh tidak mengaba-aba untuk membawa dua dari setiap spesies ke dalam bahtera, hanya dua dari setiap jenis. Jenis terlihat menjadi lebih bentuk umum daripada spesies-spesies. Secara pasti, di sana ada golongan-golongan kecil spesies di masa Nabi Nuh daripada sekarang. Malahan, ratusan spesies anjinf dan kucing mungkin hanya sebuah golongan kecil (beberapa spesies yang beebeda dari anjing dan kucing di dalam dunia adalah hasil dari pemeliharaan). Ada cukup ruangan untuk semua jenis binatang, kira-kira tempat yang ekstra untuk makanan dan suplai.
Bagaimana tentang 30 ton dinosaurus dahsyat yang mencapai tinggi 3 cerita? Bagaimana mereka layak diatas bahtera? Tuhan mumngkin tidak mengirim kepada Nuh tumbuh dinosaurus dewasa tetapi lebih kecil dari itu “remaja” yang telah mengambil sedikit tempat dan belum mampu intuk reproduksi.
Tuhan membawa binatang-binatang ke Nuh sehingga dia tidak melepaskan dan “memotongnya” (Kejadian 7:9). Sejak Tuhan membawa binatang-binatang ke kapal dalam sebuah cara yang ajaib, Dia mungkin juga menyediakannya dengan beberapa arti dari hibernate sehingga memberi makanan dan membersihkan yang telah dijaga menjadi minimum. Gelap, mengayun lingkungan bahtera mungkin telah mengkontribusi kepada aktifitas lebih rendah binatang-binatang.
Teman-teman, orang Kristen harus tidak mempunyai masalah menerima kenyataan dari dinosaurus beberapa tahun lalu. Tak ada yanng harus kita tolak ide dengan adanya binatang-binatang yang sangat besar dalam bahtera Nuh.
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
22.17
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
MENCARI YANG HILANG
Rabu, 24 November 2010
“Daftar Prospektus” Yesus memang menakjubkan: Ia memilih Matius si pemungut cukai sebagai salah saru dari Kedua belas rasul, Ia mengajar seorang perempuan yang memilikki lima suami di tepi sebuah sumur, dan ia makan di rumah Zakheus. Betapa berbedanya daftar prospektius kita yang berisi orang-orang yang kita kira akan menjadi prospek yang baik bagi berita injil! Sudahkah kita belajar dari Yesus untuk benar-benar mencari yang hilang?
Yesus tahu tujuan hidupNya: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Ya Allah, tolong kami agar misi kami sama jelasnya seperti misi Yesus.
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
23.24
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
MAUKAH ANDA SEMBUH Yohanes 5:1-16
Yesus selalu lebih peduli terhadap jiwa manusia. Ia memberitahu orang itu, “Jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk”(ay.14). sekarmg ini Yesus mau menyembuhkan jiwa kita. Ia memanggil kita untuk berdiri dan berjalan bersama dengan Dia. Bagaimanapun, kita dapat tetap tinggal dimana kita tinggal. Sewaktu Yesus menyuruh orang itu, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah,” orang itu tidak harus melakukannya. Ia memilikki pilihan. Ia bisa saja memilih untuk untuk memilih berbaring disitu. Ia bisa saja akhirnya mati dalam kondisi yang buruk sekali. Begitupun, sewaktu Yesus memanggil kita, kita memilikki pilihan. Memang akan lebih lebih nyaman untuk berbaring diatas tilam dan tidak melakukan apa-apa—namun jika begitu jadinya, kita tidak pernah dapat menjadi manusia seutuhnya! Keputusan ada ditangan kita.
Semoga Allah menolong kita untuk tidak menjadi seperti orang-orang farisi. Semoga Ia menolong kita untuk menyingkirkan pelbagai tradisi dan prasangka kita. Marilah kita serahkan diri kita ke tangan Tuhan. Ia akan menyembuhkan kita!
Maukah Anda benar-benar disembuhkan? Respon anda akan memperlihatkan jawaban anda.
Semoga Allah menolong kita untuk tidak menjadi seperti orang-orang farisi. Semoga Ia menolong kita untuk menyingkirkan pelbagai tradisi dan prasangka kita. Marilah kita serahkan diri kita ke tangan Tuhan. Ia akan menyembuhkan kita!
Maukah Anda benar-benar disembuhkan? Respon anda akan memperlihatkan jawaban anda.
Diposting oleh
Stevani Aprilia
di
23.15
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)

